jump to navigation

Takut kepada Allah dan Muraqabatullah 7 Februari 2012

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam, Tak terkategori.
add a comment

Al Quran :

Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabb kalian : sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat dahsyat. (Ingatlah) pada hari (ketika) kalian melihat goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan semua wanita yang hamil, dan kalian lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapii adzab Allah itu sangat keras.” (QS.Al Hajj [22]: 1-2)

Hadits 1

Bukhari Muslim meriwayatkan dari Anans ra, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah menyampakan khutbah di hadapan kami, khutbah yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Dalam khutbah tersebut beliau bersabda :’Sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui, nisscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. ‘Para sahabat pun menutupi muka mereka seraya menangis sesenggukan.”

Hadits 2

Bukhari Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: “Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW seorang yang jujur dan sangat layak dipercaya:’Sesungguhnya proses penciptaan setiap orang dari kalian berada di perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani). Selanjutnya, berupa ‘alaqah (segumpal darah) dalam masa yang sama, kemudian berubah menjadi mudhghah (Segumpal daging) dalam masa yang sama , kemudian Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya disamping diperintahkan untuk menuliskan 4 perkara, yakni : rizkinya, ajalnya, perilaku-nya, dan bahagia-celakanya. Demi Dzat yang tiada ilaah selain-Nya, sungguh adakalanya seseorang dari kalian benar-benar mengerjakan amalan ahli ssurga sehingga jarak antara dia dan ssurga hanya tiggal 1 dzira’, namun qadha’ yang ditetapkan baginya telah tertulis lebih dulu sehingga dia pun mengerjakan amalan ahli neraka hingga akhirnya mauk neraka. Sungguh adakalanya seseorang dari kalian benar-benar mengerjakan amala ahli neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya tinggal 1 dzira’, namun qadha’ yang ditetapkan bagnya tertulis lebih dulu sehingga dia pun mengerjakan amalan ahli surga hingga akhirnya masuk surga.”

Hadits 2

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Adi bin Hatim Ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda : ‘Setiap orang dari kalian pasti akan diajak bicara oleh Rabbnya secara langssung tanpa perantara. Dia melihat kesebelah kanannya dan disitu tidak ada sesuatupun yang dilihatnya, kecuali amal yang dikerjakannya. Dia lalu melihat kessebelah kirinya dan di situ tidak ada sesuatu yang dilihatnya kecuali amal yang telah dikerjakannya. Dia lalu melihat ke arah depannya dan di situ tidak ada sesuatu pun yang dilihatnya, kecuali neraka. Karenanya, jagalah diri kalian dari siksa neraka meskipun dengan (bershadaqah) separo butir kurma.”

Hadits 3

Bukhari meriwayatkan dari Anas ra, ia berkata :”Sesungguhnya kalian kelak akan mengerjakan amalan yang dalam pandangan kalian lebih keci daripada butiran tepung sementara pada zaman Rasulullah SAW dahulu kami menganggapnya termasuk sesuatu yang mencelakakan.”

Hadits 4

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu pencemburu dan cemburunya Allah adalah jika seseorang melanggar apa yang telah Allah haramkan atasnya.”

 

Sumber Ringkasa Riyadhus Shalihin

Otomotif Vs TOGEL 31 Januari 2012

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam, Biker, Tak terkategori.
7 comments

Setiap kali membuka blog oleh WordPress dilihatkan blog-blog teratas yang sering diklik dan di komen oleh para pembaca. Dan lihatlah yang paling banyak dilihat adalah TOGEL (Totoan Gelap) mengalahkan otomotif yang berada di peringkat kedua …

ada 4 tulisan teratas tentang TOGEL dan ada 3 tulisan teratas tentang otomotif, kebetulan yang lagi hot adalah tentang kehadiran New Pulsar 200NS di tahun 2012 ini…

Kenapa ya TOGEL yang notabene adalah judi sangat terkenal, dibuka diikuti dan dinanti kehadirannya serta angka-angkanya….

Begitu kroniskah perjudian untuk manusia sekarang? atau menginginkan kekayaan yang mendadak tanpa adanya usaha? kemunduran moralkah? atau yang lain….? Entahlah…

Memori ini langsung teringat saat Togel juga dilegalkan di Indonesia betapa banyak orang di Indonesia kecanduan dengan judi ini… siang-malam tak pernah lepas dari kertas dan pensil… ya hanya untuk meramal angka-angka, buku-buku ramalan pun laris manis di jual, orang gila pun ditanya untuk nomer yang akan keluar…setiap mimpi ditafsirkan dengan angka…

togel membuat orang normal menjadi gila… judi ini menjadi adiktif yang tidak lebih berbahaya dari pada sabu dan narkotika. Kuburan pun jadi tempat bertanya. Sungguh kemusrikan sangat menjadi saat togel ada.

Sayapun sempat mendelete friendlist yang update statusnya hanya togel saja… Say No To TOGEL dan perjudian lainnya….. hai anda para pecinta Togel tidak ada rumusnya Judi menjadikan kita kaya yang ada hanya;

JUDI AKAN MENJADIKAN MISKIN DAN BANYAK HUTANG SERTA KEHILANGAN SEMUA YANG KITA CINTAI!!!!

sebaiknya lihat video ini untuk menyadarkan kita.

Ikhlas dan Haramnya Riya’ 27 Januari 2012

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam, Tak terkategori.
add a comment

Allah Berfirman :

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al-Bayyinah [8]).

Hadits Nabi:

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari ‘Umar Ra, dia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:’Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya balasan yang akan diperoleh seseorang dari amalnya juga sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya diniatkan untuk keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang Hijrahnya diniatkan untuk meraih keduniaan atau seorang wanita yang diperistrinya, maka dia akan mendapatkan balasan sesuai niatnya.”

Hadits 2

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra., ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:’Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada postur kalian dan tidak pula kepada bentuk-rupa kalian, Akan tetapi, Dia akan melihat kepada hati kalian.”

Hadits 3

Bukhari-Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang beliau riwayatka dari Rabbnya:”Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan da keburukan serta telah menjelaskannya di dalam Kitab-Nya. Barang siapa yang sudah berniat untuk berbuat kebaikan namum tidak jadi mengerjakannya, maka akan dituliskan untuknya 1 kebaikan yang sempurna; jika dia lalu benar-benar mengerjakannya, maka Allah akan menuliskan untuknya 10 hingga 700 kebaikan, bahkan bisa lebih banyak lagi. Barangsiapa yang sudah berniat untuk berbuat keburukan namun tidak jadi mengerjakannya, maka akan dituliskan untuknya 1 kebaikan yang sempurna; jika dia lalu benar-benar mengerjakannya, maka Allah akan menuliskan 1 keburukan untuknya.” Dalam riwayat lain ada tambahan :…”atau (bahkan) Allah berkenan menghapuss (kesalahan)nya itu. Tidak ada yang binasa dalam pandangan Allah, kecuali orang yang memang sudah dica akan binasa.”

Hadits 4

Bukhari Muslim meriwayakan dari Jundab bin ‘Abdullah ra, ia berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda :’Barang siapa yang berbuat kebaikan dengan niat supaya didengar oleh orang lain, niscaya Allah akan membuat orang lain mendengarnya (dan hanya itulah balasannya). Barangsiapa yang berbuat kebaikan dengan niat supaya dilihat oleh orang lain, niscaya Allah akan membuat orang lain melihatnya (dan hanya itu (balasan)nya).”

Hadits 5

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata :”Rasulullah saw bersabda:’Allah berfirman :’Aku adalah sekutu yang sungguh tidak memerlukan sekutu. Barangsiapa yang berbuat kebajikan dengan menyertakan sekutu selain-Ku (sebagai tujuannya), maka Aku meninggalkan dia dan sesuatu yang dia sekutukan dengan-Ku itu.” “Dalam riwayat lain ada tambahan :”Aku berlepas darinya dan dia menjadi hamba sesuatu yang karenanya dia beramal.”

Hadits 6

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:’Allah berfirman: ‘Golongan manusia yang pertama kali akan diadili kelak pada hari Kiamat adalah : Pertama, orang yang secara zhahirnya mati syahid, Orang tersebut disidangkan lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan yang bakal diterimanya dan diapun melihatnya. Akan tetapi, dia lalu ditanya:’Apa yang telah engkau perbuat?’ Dia menjawab:’Aku telah berperang karena-Mu hingga terbunuh sebagai syahid.’ Allah berfirman:’Engkau dusta. yang benar adalah engkau berperang dengan niat supaya disebut sebagai jagoan dan engkaupun sudah mendapatkannya. ‘Selanjutnya, Allah memerintahkan (kepada malaikat) agar orang tersebut diseret pada mukanya hingga akhirnya dicemplungkan ke dalam neraka. Kedua, orang yang mempelajari ilmu Islam dan mengajarkannya kepada orang lain dan selalu membaca Al Qur’an. Orang inipun disidangkan, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan yang akan diterimanya dan diapun melihatnya. Akan tetai, dia lalu ditanya:”Apa yang telah engkau perbuat?’ Dia menjawab:’Aku telah mempelajari ilmu Islam dan mengajarkannya kepada orang lain serta selalu membaca Al-Quran karena-Mu. ‘Allah berfirman: ‘Engaku dusta. Yang benar adalah engkau mempelajarinya supaya engkau disebut sebagai qari'(orang yang lihai dalam membaca) dan engkau sudah mendapatkan semua itu.’ Selanjutnya, Allah memerintahkan (kepada malaikat) agar orang tersebut diseret pada mukanya hingga akhirnya dicemplungkan ke dalam neraka. Ketiga, orang yanag diberi kekayaan melimpah oleh Allah, yang digunakan untuk banyak bershadaqah. Orang ini pun disidangkan, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan yang bakal diterimanya dan diapun melihatnya. Akan tetapi, dia lalu ditanya: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan hartamu?’ Dia menjawab:’Tiada satu kesempatan pun yang didalamnya Engkau suka agar seseorang mengeluarkan shadaqah padanya, melainkan aku bershadaqah di dalamnya karena-Mu.’ Allah berfirman:’Engkau dusta, Yang benar, engkau mengeluarkan shadaqah di dalamnya Engkau suka agar seseorang mengeluarkan shadaqah tersebut dengan niat agar engkau dikatakan sebagai dermawan dan engkau sudah mendapatkan julukan itu.’ Selanjutnya, Allah memerintahkan (kepada malaikat) agar orang tersebut diseret pada mukanya hingga akhirnya dicempungkan ke dalam neraka.

Iman dan Islam 25 Januari 2012

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam, Tak terkategori.
1 comment so far

Bukhari-Muslim merwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah SAW besabda : “Islam itu ditegakkan di atas lima dasar : bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; mendirikan shalat; menunuaikan zakat; haji ke Baitullah; dan berpuasa pada bulan Ramadhan.”

 

Muslim meriwayatkan dari ‘Umar RA, dia berkata : “Tatkala kami tengah duduk bersama Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang lelaki yang mengenakan pakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak nampak padanya tanda-tanda bahwa dia seorang yang sedang safar, dan tak ada seorangpun dari kami yang mengenali orang tersebut. Dia lalu duduk di hadapan Nabi SAW meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Setelah itu dia bertanya :’Wahai Muhammad, tolong beritahukan kepadaku apa itu Islam?’ Rasulullah SAW lalu menjawab : ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak untuk diibadahi, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; engkau mendirikan shalat; engkau menunaikan zakat; engkau berpuasa pada bulan Ramadhan; engkau menunuaikan ibadah haji ke Baitullah jika mampu.’ Dia berkata: ‘Engkau benar.’ Kami merasa heran, sebab dia bertanya, namun dia pula yang membenarkannya. Dia berkata lagi : ‘Tolong beritahukan kepadaku apa itu iman?’ Rasuk menjawab: ‘Iman adalah engka beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir; dan engkau beriman kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk’. Dia pun lalu berkata:’Engkau benar’. Dia bertanya lagi :’Tolong beritahukan kepadaku apa itu ihsan?’ Rasul menjawab:’Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya, engkau yakin bahwa Allah pasti melihatmu.’ Selanjutnya, dia berkata :’Tolong beritahukan kepadaku kapan datangnya hari Kiamat. Rasul menjawab:’Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’ Dia berkata lagi: ‘Kalau begitu, tolong beritahukan kepadaku tanda-tanda hampir tibanya hari Kiamat.’ Rasul menjawab:’Tanda-tandanya adalah ketika budak wanita telah melahirkan tuannya; ketika engkau menyaksikan orang-orang yang sangat fakir telah bermegah-megahan dalam membangun tempat tinggal.’ Selanjutnya, orang tersebut meningalkan kami. Tidak lama berselang Rasul lalu bertanya kepadaku:’Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa laki-laki yang bertanya tadi?’ Aku menjawab:”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Rasul menjawab:’ Dia adalah Jibril yang sengaja mendatangi kalian untuk mengajarkan agama kalian.

sumber Ringkasan Riyadhush Shalihin

Thaharah 5 Januari 2012

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam, Tak terkategori.
add a comment

Islam sangat memperhatikan masalah thaharah (bersuci). Ulama fiqih sendiri menganggap bersuci merupakan satu syarat pokok sahnya ibadah. Thaharah menurt bahasa berarti bersih. menurut istilah fuqaha berarti membersihkan hadas atau menghilangkan najis.

Thaharah dai hadas dan najis itu menggunakan air, sebagaimana firman Allah SWT :

“… dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu…” (Q.S. Al-Anfal :11)

“…dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih…” (QS. Al Furqan :48)

Para ulama membagi air menjadi dua berdasarkan banyak sedikitnya atau berdasarkan keadannya yaitu :

a. Air Mutlaq dan Air Musta’mal

b. Air Mudhaf

Air Mutlaq

adalah air yang menurut sifat asalnya, seperti air yang turun dari langit atau keluar dari bumi; Air hujan, air laut, air sungai, air telaga, dan setiap air yang keluar dari bumi, salju atau air beku yang mencair. Menurut ittifaq (Kesepakatan) ulama, air ini suci dan menyucikan.

Air Musta’mal

Air Mutlaq bekas basuhan atau perasan, Para ulama mahzab berkata, apabila air berpisah dari tempat yang dibasuh bersama najis, maka air itu hukumnya najis, kalau air itu berpisah tidak bersama najis, maka hukumnya tergantung tempat yang dibasuh jika bersih maka bersih jika kotor menjadi kotor.

Air Mudhaf

Adalah air perahan dari suatu benda seperti limau, tebu, anggur atau air mutlaq pada asalnya kemudian bercampur dengan benda2 lain misalnya air bunga. Air semacam ini suci tetapi tidak menyucikan najis dan kotoran. Pendapat ini merupakan kesepakatan semua mahzab kecuali Hanafi yang memperbolehkan bersuci dari najis dengan semua cairan selain minyak tetapi bukan sesuatu yang berubah karena dimasak. Pendapat ini sesuai dengan pendapat ASy Syahid Murtadha dari Imamiyah

Semua Mahzab, kecuali Hanafi juga sepakat tentang tidak bolehnya bewudhu dan mandi dengan air mudhaf.

(sumber : Buku Fiqh Lima Mahzab)

Ibadah Qurban 2 November 2011

Posted by Nanang Himawan in Belajar Islam.
add a comment

Panduan Ibadah Qurban

Kategori: Fiqh dan Muamalah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2) Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV/450, & Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis).

Pengertian Udh-hiyah

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Hadis di atas didla’ifkan oleh Syaikh Al Albani (Dla’if Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan qurban, atau bahkan lebih utama dari pada sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408) Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat kedua menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Al Muhalla 5/295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II/367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV/454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120).

Yakinlah…! Bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari jenis Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (Qs. Al Hajj: 34). Dalam bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi atau kambing. Oleh karena itu, berqurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III/409)

Seekor Kambing untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266)

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya qurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban, sebelum menyembelih beliau mengatakan: “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349). Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan qurban onta hanya boleh dari maksimal 10 orang.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawab: Tidak harus, karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Arisan Qurban Kambing?

Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)[1]. Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 & 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455). Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).

Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban terkait dengan orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban terkait dengan orang yang kesulitan melunasi hutang atau orang yang memiliki hutang dan pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.

Hukum Qurban Kerbau

Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau. Baik dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.

Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Isi Pertanyaan:
“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:
“Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’ Babil Maftuh 200/27)

Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.

Urunan Qurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika idul adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban. Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah qurban?

Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban, alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus tradisi ‘qurban’ seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai qurban. Karena biaya pengadaan kambing diambil dari sejumlah siswa.

Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:

  • Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.
  • Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang telah meninggal, mendahului beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa berqurban atas nama orang yang sudah meninggal secara khusus tanpa ada wasiat sebelumnya adalah tidak disyariatkan. Karena Nabi r tidak pernah melakukan hal itu. Padahal beliau sangat mencintai keluarganya yang telah meninggal seperti istri beliau tercinta Khadijah dan paman beliau Hamzah.
  • Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuk dirinya jika dia meninggal. Berqurban untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit. (Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dari Risalah Udl-hiyah Syaikh Ibn Utsaimin 51)

Umur Hewan Qurban

Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, diambil dari kata sinnun yang artinya gigi. Hewan tersebut dinamakan musinnah karena hewan tersebut sudah ganti gigi (bahasa jawa: pow’el). Adapun rincian usia hewan musinnah adalah:

No. Hewan Usia minimal
1. Onta 5 tahun
2. Sapi 2 tahun
3. Kambing jawa 1 tahun
4. Domba 6 bulan (domba Jadza’ah)

(lihat Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam, IV/461)

Apakah yang menjadi acuan usianya ataukah ganti giginya?

Yan menjadi acuan hewan tersebut bisa digolongkan musinnah adalah usianya. Karena penamaan musinnah untuk hewan yang sudah genap usia qurban adalah penamaan dengan umumnya kasus yang terjadi. Artinya, umumnya kambing yang sudah berusia 1 tahun atau sapi 2 tahun itu sudah ganti gigi. Disamping itu, ketika para ulama menjelaskan batasan hewan musinnah dan hewan jadza’ah, mereka menjelaskannya dengan batasan usia. Dengan demikian, andaikan ada sapi yang sudah berusia 2 tahun namun belum ganti gigi, boleh digunakan untuk berqurban. Allahu a’lam.

Berkurban dengan domba jadza’ah itu dibolehkan secara mutlak ataukah bersyarat

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. An Nawawi menyebutkan ada beberapa pendapat:

Pertama, boleh berqurban dengan hewan jadza’ah dengan syarat kesulitan untuk berqurban dengan musinnah. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Umar dan Az Zuhri. Mereka berdalil dengan makna dlahir hadis di atas.

Kedua, dibolehkan berqurban dengan domba jadza’ah (usia 6 bulan) secara mutlak. Meskipun shohibul qurban memungkinkan untuk berqurban dengan musinnah (usia 1 tahun). Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama. Sedankan hadis Jabir di atas dimaknai dengan makna anjuran. Sebagaimana dianjurkannya untuk memilih hewan terbaik ketika qurban.

Insyaa Allah pendapat kedua inilah yang lebih kuat. Karena pada hadis Jabir di atas tidak ada keterangan terlarangnya berqurban dengan domba jadza’ah dan tidak ada keterangan bahwa berqurban dengan jadza’ah hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, Jumhur ulama memaknai hadis di atas sebagai anjuran dan bukan kewajiban. Allahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim An Nawawi 6/456)

Cacat Hewan Qurban

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:

a. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 [2]:

– Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya
Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.

– Sakit dan jelas sekali sakitnya. Tetapi jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh diqurbankan.

– Pincang dan tampak jelas pincangnya
Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.

– Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang
Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (lih. Shahih Fiqih Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’ 3/294).

b. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2 [3]:

– Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
– Tanduknya pecah atau patah

(lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

c. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna.
Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

Footnotes:

[1] Sufyan At Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya: “Kamu berhutang untuk beli unta qurban?” beliau jawab: “Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (Qs. Al Hajj: 36). (lih. Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)

[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat…dan beliau berisyarat dengan tangannya.” (HR. Ahmad 4/300 & Abu Daud 2802, dinyatakan Hasan-Shahih oleh Turmudzi). Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/464)

[3] Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dlo’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk qurban. (Syarhul Mumthi’ 7/470)

***

Penulis: Ammi Nur Baits
Artikel www.muslim.or.id

Sumber